Zar Donato bercerita, film pendeknya pernah diputar di sebuah festival dan seorang filmmaker asal Siprus melihat aktingnya. Momen ini membawa Zar bermain di dua film panjang yang dibuat oleh sineas Siprus. Menariknya, film yang pertama kali memberikannya pengalaman akting di negara tersebut belum rampung. Sementara film keduanya di sana, Maricel (2025) yang diarahkan oleh Elias Demetriou, diputar di berbagai festival dan bisa disaksikan oleh audiens Indonesia di Europe on Screen 2026 beberapa waktu lalu.
Baca juga: Wawancara Dengan Damian McCann saat Europe on Screen 2026
Maricel mengikuti kisah seorang pekerja domestik asal Filipina yang ditugaskan membantu dan menjaga kedua orang tua si pemberi kerja. Namun dalam prosesnya, posisi Maricel berada dalam konflik keluarga, serta tentunya perbedaan budaya dan habit antara Maricel dengan si majikan.
Zar hadir pada beberapa sesi pemutaran Maricel di Europe on Screen. Ia menjawab berbagai rasa penasaran audiens setelah mereka menonton film tersebut. Di sela kesibukannya berkeliling lokasi pemutaran, kami berkesempatan mengobrol tentang pengalamannya di film Siprus, kisah pekerja Filipina, dan pandangannya terhadap situasi negaranya saat ini.
Infoscreening : Aspek apa dari perjalanan hidup Maricel yang buat kamu terasa paling universal, terlepas dari latar belakangnya?
Zar Donato : Keinginannya untuk terhubung dan menjadi bagian dari suatu lingkungan. Saya rasa semua orang memahami bagaimana rasanya bisa diterima dan diakui.
Infoscreening : Apa saja hal-hal yang perlu dipahami terhadap karakter yang kamu perankan?
Zar Donato : Secara umum, para asisten ini dilatih untuk membantu. Mereka memang memiliki inisiatif untuk melakukan banyak pekerjaan. Namun, tidak semua pemberi kerja memahami kalau para asisten bekerja untuk memudahkan hidup mereka. Jika dikaitkan dengan film ini, pemberi kerja mungkin keliru dan menganggap bahwa para asisten justru menghambat kinerja mereka (orang tua yang ada di film menolak bantuan Maricel karena merasa masih mampu), padahal sebenarnya tidak demikian. Itulah salah satu kesalahpahaman umum dalam hubungan antara pemberi kerja dan pekerjanya.
Infoscreening : Apa persiapanmu untuk memerankan karakter Maricel dalam film ini?
Zar Donato : Salah satu hal yang saya lakukan adalah ngobrol dengan para OFW (Oversease Filipino Workers) yang tinggal di Siprus. Saya menghabiskan waktu bersama mereka dan mendengarkan cerita mereka. Orang-orang Filipina di sana suka pergi piknik setiap hari Minggu setelah kebaktian. Saya pernah ke sana, melakukan penelitian, berbicara dengan mereka, menghabiskan waktu bersama mereka, dan bertanya tentang realitas pekerjaan mereka serta pengalaman-pengalaman yang mereka alami. Pengalaman itu membantu saya memahami dunia dengan lebih baik.
Infoscreening : Apakah ada banyak orang Filipina di Siprus?
Zar Donato : Kalau saya tidak salah, ada sekian ratus orang Filipina. Tidak terlalu banyak sih. Komunitasnya masih sangat kecil. Hampir semua orang Filipina di sana saling mengenal.
Infoscreening : Adakah kisah nyata atau sumber inspirasi yang membantumu memperkaya peranmu di film ini?
Zar Donato : Inspirasi saya yang sesungguhnya berasal dari ibu saya. Ibu saya adalah seorang pekerja migran Filipina (OFW). Beliau bekerja sebagai pengasuh di Jepang. Beliau menjadi inspirasi utama saya karena, saat saya tumbuh besar, beliau terus bekerja dan bekerja, sementara yang merawat saya adalah anggota keluarga lain. Jadi, ada banyak aspek yang saya alami saat tumbuh besar, seperti pengalaman sebagai anak dari seorang OFW dan kehidupan dalam keluarga tersebut. Hanya dengan melihat ibu saya dan kesulitan yang dia lalui membuat saya memutuskan untuk mengambil peran ini. Ini seperti surat terbuka untuk ibu saya.
Infoscreening : Sebagai seorang aktris Filipina yang bekerja di Siprus, apa yang kamu pelajari tentang pertukaran budaya dan kolaborasi selama proses produksi?
Zar Donato : Rasa ingin tahu itu penting banget. Meskipun kita berasal dari budaya yang berbeda, hubungan yang kuat bisa dibangun lewat keterbukaan dan rasa hormat.
Infoscreening : Adakah momen-momen tertentu selama syuting di mana kamu merasa batas antara dirimu dan karaktermu menjadi sangat kabur?
Zar Donato : Oh ya, tentu saja. Satu contoh pada adegan sensitif bagi saya. Saya bilang pada sutradara saya, Elias. Kami duduk bersama dan berdiskusi secara mendalam mengenai hal ini. Jadi, saat membuat film, salah satu hal yang perlu diperhatikan saat menggarap adegan sensitif adalah memastikan aktor merasa aman saat melakukannya. Saat itu, kami sudah syuting seharian penuh. Semua orang kelelahan, dan tentu saja saya harus memainkan adegan-adegan berat setiap hari. Melakukan adegan sensitif membuat saya agak tidak nyaman. Tapi kami berkompromi. Setelah itu, saya merasa sangat puas dengan hasil akhirnya. Di saat yang sama pula film ini bisa menyampaikan cerita yang seharusnya disampaikan, tanpa harus menghapus atau mengubah seluruh adegan tersebut.
Infoscreening : Pekerja migran sering kali melakukan pekerjaan yang sangat penting, meski secara sosial mereka cenderung terabaikan. Bagaimana film ini membahas kontradiksi tersebut?
Zar Donato : Film ini membuat saya bisa dilihat sebagai manusia seutuhnya. Selain itu, film ini mengingatkan kita bahwa di balik setiap pekerja ada seorang manusia dengan impian, emosi, dan kehidupan di luar pekerjaannya. Jadi, menurut saya, di situlah kita bisa menghilangkan kesenjangan itu. Di situlah kita bisa menyelaraskan seluruh kontradiksi tersebut.
Infoscreening : Belakangan ini, di Indonesia, ada sebuah fenomena “Kabur aja dulu”, terutama di media sosial, di mana kaum muda khususnya berusaha untuk meninggalkan Indonesia karena banyaknya kebijakan yang bikin geram. Kita sama-sama berada di kawasan Asia Tenggara, apa fenomena serupa juga terjadi di negaramu?
Zar Donato : Susah ya untuk tidak menyentuh isu-isu politik, tapi saya akan berusaha agar hal ini tetap ringan. Mengenai fenomena tersebut, pengalaman pribadi saya tentu saja terjadi saat harga bahan bakar naik drastis. Karena kenaikan harga bahan bakar itu, pada akhirnya kita akan turun satu kelas karena daya beli kita berkurang. Semuanya menjadi sangat mahal, begitu mahal hingga sulit untuk menyesuaikan diri sepenuhnya. Sulit untuk bangkit kembali. Kita harus bekerja di empat pekerjaan hanya untuk mengatasi masalah ini. Jadi, bayangkan saja bagaimana nasib kelas bawah saat ini, di titik ini. Saya pribadi merasa ingin keluar dari Filipina; jujur saja, saya ingin pindah ke Spanyol atau ke suatu tempat di Eropa di mana saya bisa hidup dengan satu pekerjaan penuh dan bisa menyesuaikan gaji yang diterima dengan biaya hidup, tanpa harus berjuang sekeras ini. Jadi, situasi kita benar-benar sama, ditambah lagi dengan korupsi dan skandal. Saya rasa semua orang di seluruh dunia mengetahui korupsi yang terjadi di Filipina. Masalah ini sangat sulit ditangani. Pada titik ini, kami disedot habis. Keuangan kami disedot habis oleh orang-orang di puncak kekuasaan.
Infoscreening : Apa yang membuatmu bertahan di Filipina?
Zar Donato : Anjing saya. Saya ingin membawanya, tapi biayanya juga mahal kalau harus membawanya ke mana pun saya pergi. Kami juga punya kucing, dan biayanya bakal jadi dua kali lipat kalau kami pindah. Kami harus merencanakannya dengan matang. Kalau mau tinggal di tempat baru, kami harus tinggal di sana untuk waktu yang lama karena biaya untuk kembali lagi akan jauh lebih mahal daripada pergi ke sana karena harus membawa hewan peliharaan. Keluarga saya ada di luar negeri. Ibu dan saudara laki-laki saya sudah tinggal di Jepang. Saya satu-satunya yang masih di Filipina.
***
Zar sangat mengagumi Dolly De Leon, aktris Filipina yang menuai banyak pujian lewat perannya di Triangle of Sadness (2022). Zar pernah beradu akting dengannya di film Billie & Emma (2018) dan ia berharap mereka bisa bermain di film yang sama lagi di masa depan.
Baca juga artikel-artikel apik dari Ali Satri Efendi lainnya pada halaman berikut.