sumber: rilis pers
Pasca menghadiri Vilnius Short Film Festival di Lithuania dan CFISFF di Prancis yang merupakan festival film pendek terbesar di dunia, Minikino mendorong terbentuknya jejaring global yang kian luas. Sekaligus, membuka ruang rencana baru bagi Minikino Film Week di masa mendatang.
Kehadiran Fransiska di Vilnius Short Film Festival di Lithuania dan Clermont-Ferrand International Short Film Festival (CFISFF) di Prancis membawa misi untuk memperluas jaringan internasional. Tak hanya itu, ia juga membuka banyak kesempatan untuk kiprah Minikino di masa depan.
Film Pendek Indonesia Menuju Puncak
Tahun 2026 merupakan tahun spesial karena untuk pertama kalinya, Asia Tenggara menjadi kawasan utama di Clermont-Ferrand. Selain itu, film – film pendek Indonesia telah hadir di banyak kompetisi internasional, program fokus Asia Tenggara, hingga sesi pasar film, hingga short film market Clermont Ferrand yang dikenal sebagai ajang terbesar di dunia.
Program Indonesian Entourage: A Sleeping Giant dalam sesi Market Screening menampilkan enam film pendek Indonesia yang menekankan pentingnya keberanian, keberagaman cerita, dan kualitas produksi yang makin matang. Realita ini membuktikan satu hal penting, film pendek Indonesia bukan lagi “format kecil” sebatas tugas sekolah. Namun lebih dari itu, merupakan ruang eksplorasi seni, kolaborasi lintas negara, dan pintu masuk ke industri film global.
Film-film pendek yang ditampilkan dalam market screening Indonesian Entourage: A Sleeping Giant bisa dilihat selengkapnya pada tautan https://minikino.org/indonesianentourage2026/. Fransiska Prihadi, Direktur Program Minikino Film Week, Bali International Short Film Festival, berperan sebagai kurator program. Ia mempertimbangkan kualitas karya yang dinilai mampu merepresentasikan pencapaian terkini film pendek Indonesia.
“Film-film yang terpilih memiliki nilai tawar yang relevan dan diminati oleh industri internasional. Sebagian film pendek yang terpilih merupakan karya yang diproduksi melalui program Layar Indonesiana yang diinisiasi oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia,” kata Fransiska.
Di sisi lain, market screening, sebuah film pendek produksi Kawan Kawan Media berjudul “One Tropical Rain of Love and Guilt” juga terpilih masuk kompetisi internasional. Film ini ditulis dan disutradarai oleh Sein Lyan Tun (Myanmar), dan merupakan kolaborasi produksi lintas negara antara Indonesia, Myanmar, dan Thailand. Karya ini adalah cerminan tentang sebuah film pendek dengan potensi kolaborasi produksi yang luas.
Film pendek Indonesia turut hadir melalui sejumlah program non-kompetisi. Dalam FOCUS: South East Asia, terpilih film Basri dan Salma dalam Komedi yang Terus Berputar (Basri and Salma in a Never-Ending Comedy) karya sutradara Khozy Rizal, Prenjak (In the Year of Monkey) karya sutradara Wregas Bhanuteja, serta Ragadi Maparo (Where the Wild Frangipanis Grow) karya sutradara Bali, Nirartha Bas Dhiwangkara. Sementara itu, dalam program bertajuk BLOOD yang menampilkan film pendek Darah Ksatria (Knight of Blood) yang disutradarai oleh Widya Arafah dan Arjuna Asa. Film lain karya Khozy Rizal, Little Rebels Cinema Club, turut tampil dalam program Market Picks.
Indonesia Berdiri Bersama Asia Tenggara
Sebagai bagian dari Southeast Asian Festival Focus, CFISFF juga menampilkan seleksi film khusus yang menyoroti kawasan Asia Tenggara. Booth khusus Asia Tenggara ini merupakan program kali pertama yang didirikan dalam ruang pasar melalui kerja sama dengan The Asian Film Alliance Network (AFAN). AFAN adalah sebuah inisiatif jejaring yang mempertemukan badan-badan perfilman nasional di Asia dalam kerangka memperkuat kemitraan, pertukaran informasi, serta merayakan warisan budaya, cerita, dan sumber daya bersama di kawasan ini dan seterusnya. Dewasa ini, AFAN diikuti oleh lembaga perfilman nasional dari Korea Selatan (KOFIC), Indonesia (Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia), Malaysia (FINAS), Mongolia (MNFC), Filipina (FDCP), Singapura (IMDA/SFC), dan Taiwan (TAICCA).
AFAN pertama kali terbentuk pada perhelatan Cannes Film Festival 2023 atas inisiatif Korean Film Council. Sejak itu lah, AFAN terus mengembangkan jejaring lintas kawasan. Salah satu langkah penting yang sudah dilakukan adalah bermitra dengan European Film Agency Directors Association pada Mei 2024 untuk memperkuat kolaborasi Asia–Eropa. Pada Mei 2025, Thailand resmi bergabung dengan AFAN di Cannes Film Festival, menandai langkah penting berikutnya dalam perluasan jejaring kawasan ini.
Tak Hanya Memutar Film, Namun Juga Merajut Jejaring
Tak sebatas terlibat dalam agenda pemutaran film. Delegasi Indonesia pun turut aktif di forum industri, diskusi ekonomi film pendek, hingga platform pengembangan proyek seperti Talents Connexion. Keseluruhan agenda ini membuka peluang baru. Mulai dari berkenalan dengan kolaborasi produksi, distribusi festival, hingga menggali potensi kerja sama jangka panjang lintas negara.
Dukungan terhadap keberangkatan delegasi Indonesia diberikan oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya.
Denpasar, Siap Menjadi Tuan Rumah Dunia
Banyak rencana baru yang digagas Fransiska, sesampainya di Indonesia. Salah satunya adalah rencana untuk memperkuat Minikino Film Week sebagai jembatan antara Indonesia dan dunia.Melalui Minikino Film Week 12, Bali International Film Festival yang akan berlangsung pada 11–18 September 2026, Denpasar bersiap diri menjadi ruang pertemuan utama para pembuat film, kurator, dan profesional industri internasional yang hadir langsung demi berbagi gagasan dan pengalaman.
Perlu digarisbawahi, festival ini bukan hanya untuk filmmaker, namun juga seluruh masyarakat Bali untuk ikut menjadi tuan rumah. Generasi muda, komunitas, pelajar, pekerja kreatif, hingga penonton umum. Semua merupakan aktor penting.
Industri film yang sehat tidak hanya dibentuk oleh para pembuatnya. Namun juga lahir dan berkembang dari penonton yang hadir, mencari tahu, bertanya, berdiskusi, dan berani bersuara serta bersikap kritis. Karenanya, festival ini dirancang supaya bersifat ramah, terbuka, dan mudah diakses. Siapa pun bisa terlibat dan berkontribusi. Baik sebagai kreator, maupun sebagai penonton aktif dan kritis bersuara, yang ikut membentuk arah perkembangan sinema kita ke depan.
Kesempatan ini adalah ruang belajar bersama: menyaksikan karya dari berbagai negara, berdialog langsung dengan para ahli, serta memahami bagaimana film pendek Indonesia bergerak di level global.
Kenapa Film Pendek Penting?
Film pendek melahirkan banyak ide segar dan talenta baru di dunia film. Ini merupakan salah satu kekuatan yang sangat khas dari film pendek. Banyak sutradara besar di Indonesia hingga di dunia memulai karirnya dari film pendek. Bahkan beberapa seniman audio visual memilih film pendek sebagai media utama untuk ekspresi mereka. Di Indonesia maupun Asia Tenggara secara regional, film pendek kini jadi tulang punggung gerakan sinema yang progresif. Lebih lincah, lebih berani, dan penuh dengan energi baru. Film pendek mungkin bukan komoditi komersial, tetapi merupakan medium berkesenian yang lebih murni, mana kala kita melihat film sebagai karya seni.
Partisipasi di Clermont-Ferrand 2026 telah kembali mempertegas bahwa film pendek Indonesia bukan sekadar pelengkap industri film. Ia adalah motor penggerak generasi baru perfilman Indonesia.
Kini, giliran Bali ikut bergerak bersama.