Festival Sinema Australia dan Indonesia (FSAI) kembali di tahun 2026, membawa film-film kontemporer terbaik Australia dan Indonesia kepada penonton di 11 kota di Indonesia.
“FSAI membawa cerita Australia dan Indonesia secara langsung kepada penonton Indonesia, sehingga memperkuat pemahaman budaya melalui film dan merayakan kemitraan industri kreatif kita yang terus berkembang,” ujar Duta Besar Australia untuk Indonesia, Rod Brazier. Duta Besar dalam kesempatan ini juga menyorot tentang kekayaan intelektual, hal yang disorot dalam FSAI tahun ini dengan menyebutkan film Rangga & Cinta (2025) yang merupakan perpanjangan dari film Ada Apa Dengan Cinta? (2002) serta animasi Jumbo (2025) yang karakter di dalamnya dapat terus berjalan dan juga telah mendapat kesuksesan komersial pada tahun peluncurannya.
Saat ini belum banyak film Indonesia didistribusikan di Australia dan Jumbo disebut Duta Besar menjadi pelopor film Indonesia yang didistribusikan di Australia. Selain itu Duta Besar sendiri menyebut bahwa kolaborasi syuting antar negara saat ini masih seputar pembuatan video musik dan belum banyak seputar film. Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar menyatakan Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) 2026 menjadi momentum penting bagi kolaborasi industri film kedua negara. “Buat saya impossible, is I’m possible” sebut Irene tentang potensi kolaborasi dari kedua negara di bidang film.

Festival ini akan dibuka dengan penayangan Kangaroo disutradarai oleh Kate Woods, film bertemakan drama-komedi yang mengambil latar di Pedalaman Australia, memberikan kisah yang hangat dan menarik serta menekankan pentingnya komunitas dan koneksi di antaranya. Film ini sempat disajikan dalam media screening 22 April lalu, bercerita tentang Chris Masterman (diperankan Ryan Coor) seorang pembawa acara televisi yang kariernya jatuh karena sebuah blunder. Dalam perjalanan mengembalikan kariernya, ia secara kebetulan terlibat pertemanan dengan Charlie (Lily Whiteley) dalam misi penyelamatan kangguru-kangguru yang perlu diselamatkan. Kangaroo menjadi film yang menyenangkan yang patut untuk ditonton bersama keluarga dalam FSAI tahun ini.
Tahun ini juga menandai pertama kalinya FSAI menyelenggarakan “Screen on the Green”, sebuah pengalaman menonton film di ruang terbuka di Kebun Raya Bogor, memberikan pengalaman baru kepada penonton untuk menikmati film dengan suasana taman yang indah.
FSAI 2026 akan hadir di Jakarta, Manado, Makassar, Semarang, Medan, Surabaya, Banjarmasin, Bogor, Yogyakarta, Kupang, dan Mataram, menampilkan lima film Australia dan dua film karya alumni Australia di Indonesia, bersama empat film pendek Indonesia karya alumni Australian Alumni Awards untuk program film pendek.
Selanjutnya, festival ini juga akan memberikan serangkaian masterclass sinematografi dan produksi film dokumenter, yang diberikan oleh pakar film Australia seperti Andrew Commis, sinematografer dari The Force of Nature: The Dry 2 (salah satu film yang tampil dalam festival), serta Associate Professor Michelle Johnston dari Curtin University.