Film pemenang Piala Citra FFI 2023, Eksil, diputar di Taman Lingkar Lokananta, Surakarta, pada Sabtu (15/8). Film garapan sutradara Lola Amaria ini berkisah tentang kesaksian dan pengalaman hidup warga Indonesia yang kehilangan status kewarganegaraannya akibat gejolak politik 1965.
Pemutaran film bertajuk Picnic Cinema tersebut digelar dalam rangka menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Indonesia. Sebelum Eksil diputar, Picnic Cinema dibuka dengan film dokumenter pendek berjudul Sepanjang Jalan Satu Arah karya sutradara Bani Nasution.
Film tersebut mengisahkan konflik antara Bani dan ibunya dalam menentukan pilihan politik pada Pilkada Surakarta 2015. Sang ibu mendorong Bani memilih calon berdasarkan kesamaan agama, sementara Bani menganggap pilihan politik merupakan hak pribadi.
Perbedaan pilihan tersebut sempat membuat hubungan Bani dan ibunya renggang. Melalui filmnya, Bani mencoba merekam bagaimana permainan politik identitas dapat masuk ke ruang paling dekat kita, bahkan keluarga.
“Waktu itu aku sampai diem-dieman sama ibu. Dan itu berlangsung lama. Adegan di ending itu ya aku niatkan untuk menunjukkan bahwa politik praktis dan politik identitas itu bikin keluarga enggak akur, dan itu terjadi di keluargaku,” ujar Bani Nasution dalam diskusi.
Baca juga: Tonny Trimarsanto: Pentingnya Perspektif Lokal di Ekosistem Film Daerah
Setelah pemutaran film pembuka, sesi kedua dilanjutkan dengan pemutaran Eksil.
Film Eksil mengikuti keseharian sejumlah eksil yang tersebar di berbagai negara, mulai dari Belanda, Jerman, Swedia, hingga Ceko. Mereka pada awalnya merupakan para pelajar yang dikirim Presiden Soekarno ke luar negeri untuk menempuh pendidikan. Harapannya, setelah menyelesaikan pendidikan, mereka dapat membawa pengetahuan dan keahliannya kembali untuk membangun republik yang baru merdeka.
Namun, situasi politik Indonesia berubah drastis setelah peristiwa 1965 dan peralihan kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto. Partai Komunis Indonesia (PKI), salah satu partai politik besar pada masa itu, ditumpas. Penyingkiran tidak hanya menyasar petinggi dan anggota PKI, tetapi juga orang-orang yang dianggap memiliki kedekatan dengan organisasi tersebut.
Para pelajar Indonesia yang berada di luar negeri pun turut terdampak. Mereka diminta mengakui pemerintahan Soeharto apabila ingin kembali ke tanah air. Sebagian pelajar menolak karena menganggap pengakuan tersebut sama saja dengan pembenaran atas kekejaman Soeharto. Akibatnya, mereka tidak dapat pulang dan kehilangan status kewarganegaraannya (stateless). Mereka inilah yang kemudian dikenal sebagai eksil.
Menciptakan Trauma
Dampak dari kebijakan dan situasi politik tersebut tidak berhenti pada persoalan kewarganegaraan. Para eksil juga dihantui kekhawatiran terhadap keluarga yang mereka tinggalkan di Indonesia.
“Jangan tanya soal keluarga saya ya. Kalau tanya-tanya soal saya enggak apa-apa,” ujar Sarmadji, salah satu eksil dalam film.
Peringatan Sarmadji itu merujuk pada program “bersih diri, bersih lingkungan” yang digencarkan pada masa Orde Baru. Program tersebut digunakan untuk menyaring warga yang dianggap terlibat PKI atau memiliki keterkaitan dengan paham komunisme. Dalam praktiknya, program tersebut juga dapat menyasar orang-orang yang tidak terlibat secara langsung atau bahkan tidak tahu apa-apa.
Kondisi tersebut membuat para eksil tidak hanya memikirkan keselamatan diri sendiri, tetapi juga mencemaskan keluarga mereka.
Trauma akibat pengawasan Orde Baru juga tergambar dalam pengalaman Waruno Mahdi, eksil lainnya. Pengawasan yang begitu kuat membuat kecurigaan terus terbawa bahkan dalam hubungan personalnya.
“Saya pernah berkenalan dengan wanita Rusia. Ternyata, setiap aktivitas kami ia laporkan. Baru saya tahu ternyata dia itu agen. Hahaha. Setelah itu saya tidak bisa menghilangkan kecurigaan saya kepada siapa pun. Jadi, saat ini saya tidak bisa menjalin hubungan erat dari hati ke hati,” ungkap Waruno.
Sementara itu, Hartoni Ubes mengaku tidak menyangka status tanpa kewarganegaraan yang dialaminya akan berlangsung selama puluhan tahun. Saat itu, Hartoni dan sejumlah rekannya masih meyakini bahwa Soekarno dapat kembali mengambil kendali republik dalam waktu dekat.
“Jujur saya tidak menyangka akan selama ini. Bukan hanya lama, tapi lama sekali. Kalau pembunuh dihukum 20-25 tahun. Kami lebih dari itu. Padahal kami tidak berbuat salah,” ujar Hartoni Ubes.
Kehidupan puluhan tahun di luar negeri tidak serta-merta menghapus kerinduan terhadap Indonesia. Chalik Hamid, salah seorang eksil, mengaku terganggu dengan anggapan bahwa kehidupan para eksil di luar negeri identik dengan senang-senang.
Bagi Chalik, kehidupan di luar negeri justru dibayangi kerinduan terhadap tanah air. Ia bahkan merawat pohon bambu dan pisang di dalam rumah sebagai salah satu cara untuk mengobati rasa rindu tersebut.
“Orang-orang pikir hidup kami di luar negeri itu senang-senang. Tidak. Pikiran kami tidak tenang. Pikiran kami selalu pada tanah air,” ungkap Chalik Hamid.

Menimbang Kembali Sejarah
Setelah pemutaran film, sesi terakhir Picnic Cinema diisi dengan diskusi bersama Lola Amaria. Diskusi kali ini spesial karena turut dihadiri salah seorang eksil, Sumardan, yang kini berkewarganegaraan Swedia dan menetap di Bantul.
Sumardan akhirnya dapat berkumpul kembali bersama keluarganya setelah melalui proses panjang untuk memperoleh izin tinggal di Indonesia.
Turut hadir juga, Arturo, mantan staf Lembaga Sensor Film yang memiliki andil dalam proses lolosnya Eksil sehingga dapat ditonton secara publik. Bagi Arturo, kehadiran film Eksil penting untuk menghadirkan perspektif lain dalam melihat sejarah Indonesia.
Menurutnya, perbedaan pandangan terhadap sebuah film semestinya dapat dihadapi melalui dialog dan karya tandingan, bukan pelarangan.
“Kalau memang tidak setuju dengan satu film, ya bikin versi lainnya. Itu kan menariknya film. Biarkan masyarakat belajar melalui diskusi. Jadi bukan melarang, apalagi menggerebek,” ujar Arturo.
Pemutaran di Taman Lingkar Lokananta malam itu dihadiri oleh ratusan penonton. Mayoritas penonton merupakan generasi muda, termasuk para mahasiswa dari berbagai universitas.
Baca juga: Tiga Film dengan Perspektif Anak Raih Penghargaan di NextScene Film Festival 2026
Lola Amaria mengaku senang melihat banyak anak muda, khususnya Gen Z, hadir dalam pemutaran Eksil di berbagai tempat. Menurutnya, sebagian generasi muda kini mulai mengetahui sisi lain dari sejarah Orde Baru yang sebelumnya tidak banyak mereka temui.
Berbeda dengan generasinya, Lola mengatakan, anak muda saat ini memiliki lebih banyak kesempatan untuk menemukan sumber sejarah dan membandingkannya dengan narasi sejarah dominan.
“Ada gap sejarah dan seolah ada satu generasi yang sengaja dihilangkan untuk tidak boleh tahu tentang peristiwa 1965 ini. Makanya saya sangat senang dan semangat apabila yang datang menonton film ini anak-anak muda,” kata Lola dalam sesi diskusi.
Menjelang film berakhir, Kartaprawira, salah seorang eksil, menyampaikan pandangannya mengenai Indonesia hari ini. Baginya, pemerintahan Soeharto memang telah lama berakhir, tetapi wataknya masih dapat ditemukan dalam kehidupan saat ini.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi pengingat agar generasi muda tidak melupakan berbagai pengalaman dan kekerasan yang terjadi pada masa Orde Baru, meski zaman telah berubah.
“Orde Baru itu masih ada. Kalau istilah saya itu hanya berganti jas,” pungkas Kartaprawira.
Film Eksil pertama kali tayang di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) pada November 2022, sebelum dirilis secara resmi di bioskop Indonesia pada Februari 2024. Kini, film dokumenter Eksil hanya dapat disaksikan melalui pemutaran terbatas dalam festival maupun berbagai kegiatan pemutaran film.