Dopamin Tutup Jakarta Film Week 2025 – Crocodile Tears Sabet Dua Penghargaan

Menyongsong Jakarta Kota Sinema, Jakarta Film Week 2025 Telah Dibuka
24 October 2025
JOFAFEST 5 Umumkan Para Pemenang: Sineas Muda Tumbuh Bersama Sinema Indonesia
31 October 2025
Menyongsong Jakarta Kota Sinema, Jakarta Film Week 2025 Telah Dibuka
24 October 2025
JOFAFEST 5 Umumkan Para Pemenang: Sineas Muda Tumbuh Bersama Sinema Indonesia
31 October 2025

Jakarta, 26 Oktober 2025 – Jakarta Film Week 2025 resmi ditutup pada Minggu malam, 26 Oktober 2025, di CGV Grand Indonesia, dengan pemutaran film Dopamin karya Teddy Soeria Atmadja sebagai Closing Film. Dopamin, merupakan karya kolaborasi pertama Angga Yunanda dan Shenina Chinamon sebagai pasangan suami istri, merefleksikan bahu membahu kedua pasangan di saat sulit dan juga senang. Dopamin hadirkan kemistri antara pasangan membuat suasana terasa manis dengan interaksi natural mereka.

Festival Director Rina Damayanti membuka acara dengan laporan kegiatan dan refleksi atas perjalanan festival tahun ini. “Melalui setiap pemutaran dan momen berbagi, kita diingatkan bahwa sinema menyatukan kita, menjembatani jarak, menyalakan empati, dan membuka hati. Kami bangga melihat bagaimana industri film Indonesia terus berkembang dan berevolusi,” ucap Rina Damayanti.

Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano
Karno, yang menegaskan komitmen pemerintah daerah terhadap penguatan ekosistem film dan ekonomi kreatif di ibu kota. Dalam sambutannya, Rano Karno memberikan apresiasinya, “Selama lima hari, kita menikmati beragam karya luar biasa dari sineas berbagai negara. Saya sangat bersyukur masyarakat Jakarta mendapat kesempatan untuk menyaksikan begitu banyak cerita dan perspektif yang ditampilkan melalui Jakarta Film Week tahun ini. Terima kasih kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dan mendukungterselenggaranya festival ini. Sampai bertemu lagi di Jakarta Film Week 2026!”

Sementara itu, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menyampaikan
apresiasi atas keberlanjutan Jakarta Film Week yang menjadi salah satu jendela penting sinema Indonesia ke dunia. “Jakarta Film Week adalah wadah diplomasi budaya, penggerak ekonomi, sekaligus jembatan yang menghubungkan berbagai masyarakat,” ujarnya.

Malam Penghargaan Jakarta Film Week 2025

Rangkaian penghargaan dimulai dengan pengumuman dari kategori kompetisi utama,
Global Feature Award diberikan kepada The Devil Smokes karya Ernesto Martinez Bucio,
yang menurut juri “membangun dunia yang autentik dan resonan dengan keseimbangan antara realisme sosial dan fabel.”

Direction Award untuk film Indonesia jatuh kepada Crocodile Tears karya Tumpal
Tampubolon, sebuah “dongeng gelap dengan penguasaan penuh terhadap bahasa sinema, dari penulisan, visual, hingga performa.” Untuk kategori film pendek internasional, Global Short Award diraih oleh A Very Straight Neck karya Neo Sora, film berdurasi 11 menit yang “memadukan absurditas, kesedihan, dan komentar sosial-politik dengan cara yang mengejutkan dan efektif.”

Global Short Special Mention diberikan kepada Workers’ Wings karya Ilir Hasanaj atas “penggunaan mise-en-scène yang inovatif yang menciptakan potret emosional penuh
kepedihan.” Dalam kategori animasi, Global Animation Award dianugerahkan kepada And Granny Would Dance karya Maryam Mohajer, yang “berani secara visual dan menyampaikan pesan pemberdayaan perempuan dengan kekuatan emosi yang sederhana namun kuat.”

Untuk kategori nasional, penghargaan Jakarta Film Fund Award diberikan kepada Salon
Gue Aje karya Tahlia Motik, karena “berhasil menyampaikan potret gentrifikasi Jakarta
dengan pendekatan yang jujur dan autentik.” Nongshim Award, sebuah penghargaan baru tahun juga turut memberikan apresiasinya untuk film Indonesia. Kategori Nongshim Award Feature untuk film panjang diberikan kepada Crocodile Tears karya Tumpal Tampubolon, sebagai pengakuan atas keberanian dan konsistensi produser dalam mengembangkan karya yang orisinal dan menantang. Untuk kategori Nongshim Award Short untuk film pendek, penghargaan ini jatuh kepada A Tale for My Daughter (Tutaha Subang) karya Wulan Putri, yang dinilai “berani dan jujur dalam mengeksplorasi isu sensitif dengan empati dan kedewasaan berpikir.”

Sementara itu untuk Producers Lab, di mana tiga produser muda terpilih — Hanna Humaira (The Nesting Hour), Abby Latip (Jonah, Who Crawled Back Into His Mother’s Womb), dan Haediqal Pawennei (What to Wear for My Own Funeral?) — akan berangkat ke Platform Busan 2026. Sementara Development Grant dari Manajemen Talenta Nasional (MTN) diberikan kepada Mozad Irvany untuk proyek The Boy with His Mother’s Statue.

Selanjutnya, Pitching Forum menghadirkan berbagai penghargaan industri yang mendukung proyek-proyek potensial sineas Indonesia. MTN Award–Development Grant diberikan kepada proyek The Light of Fire/Tinju Api (sutradara: Sesarini, produser: Lyza Anggraheni). Dua proyek, Dancing Gale (sutradara: Sammaria Sari Simanjuntak, produser Lies Nanci Supangkat & Jeanne Elizabeth Fam) dan All Things Real and Unreal (sutradara: Paul Agusta, produser: Bunga Ineza), terpilih sebagai pemenang utama karena kekuatan ide dan kedewasaan pengembangan cerita lintas budaya. BSM Award memberikan dukungan Camera Equipment Support, sementara QPM Award–Project Market Participation diberikan kepada Dancing Gale.

Sementara itu, proyek Pingpong (sutradara: Najam Yardo, produser: Hannan Cinthya)
berhasil menyabet tiga penghargaan industri sekaligus; HKIFF Industry Award: Jakarta Film Week Goes to Hong Kong yang diserahkan oleh Matthew Poon, Visinema
Award–Development Grant yang diserahkan Ajeng Parameswari, serta Jagakarya
Award–Post Production Support yang diberikan oleh Yehuda Ariwibowo dan Muhammad Alfiki.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *